Kanvas Hijau di Jantung Boyolali
Semangat juang memajukan daerah harus diwarisi oleh pemuda masa kini agar Boyolali dapat menjadi trendsetter, serta para pemimpin daerah masa depan diharapkan tidak bersikap egosentris karena fasilitas pemerintahan sejatinya adalah milik rakyat yang harus terus dijaga dan dikembangkan.

Dr. Ir. Arif Kusumawanto, M.T., IPU.
Arsitek UGM dan Koordinator Sustainable Building and Infrastructure pada Center of Excellence Fakultas Teknik UGM.
Sebuah transformasi tata kota yang bersejarah selalu diawali dengan fondasi riset yang mendalam. Perjalanan mahakarya ini bermula ketika Bapak Arif beserta tim dari UGM diminta untuk menyusun studi kelayakan pemindahan kompleks kantor pemerintahan Boyolali yang saat itu kondisinya sudah sangat sesak dan tersebar. Melalui proses observasi dan penyaringan ketat dari 20 lokasi alternatif di seluruh penjuru daerah, pilihan akhirnya mengerucut dan berlabuh pada kawasan Kemiri.
Sebagai seorang akademisi yang berdedikasi pada arsitektur hijau, Bapak Arif menyuntikkan filosofi green building ke dalam cetak biru Boyolali. Konsep utama yang diusung adalah memaksimalkan kesejahteraan (welfare) masyarakat sekaligus menekan laju kerusakan lingkungan (environmental damage) semaksimal mungkin. Harmoni alam ini diwujudkan dengan merancang gedung-gedung yang memiliki “paru-paru” di bagian tengahnya, memungkinkan sirkulasi udara segar dan cahaya matahari masuk secara alami sehingga ruang kerja tetap sejuk dan konsumsi energi dapat ditekan sangat rendah.
Tidak hanya berpegang pada keberlanjutan ekologi, rancangan kompleks ini juga menanamkan kearifan lokal dan prinsip mitigasi bencana. Bangunan sengaja didesain hanya satu lantai agar proses evakuasi warga ke alun-alun dapat dilakukan dengan cepat dan aman jika sewaktu-waktu terjadi bencana erupsi dari Gunung Merapi. Identitas kultural daerah pun dipahat dengan apik melalui arsitektur Gedung DPRD yang terinspirasi dari siluet punggung sapi, sebuah langkah arsitektural untuk mem-branding Boyolali tanpa pernah meninggalkan unggah-ungguh kesopanan budaya Jawa.
Puncak dari keindahan mahakarya ini adalah filosofi keterbukaan yang meruntuhkan sekat birokrasi. Berbeda dengan fasilitas pemerintahan pada umumnya yang tertutup, kompleks kantor Boyolali tidak dipagari dan dibiarkan terbuka selama 24 jam agar dapat digunakan untuk berbagai aktivitas warga, mulai dari olahraga hingga rekreasi. Ruang tanpa sekat ini menjadi bukti nyata bahwa ketika sebuah fasilitas diserahkan seutuhnya menjadi milik rakyat, masyarakat dengan sendirinya akan hadir untuk menjaga dan mengamankannya.